Awwaluddin Syariatullah Di Antara Kita


Kita yang ditakdirkan hidup pada kurun sepeninggal Nabi Muhammad dan menjadii muslim karena keturunan, tidak salah jika lebih dulu mengenal syariat sebelum makrifat. Tetapi, kebanyakan muslim awam, bahkan tidak tahu sama sekali bahwa setelah syariat wajib mempelajari makrifat; bahwa di dalam Islam juga ada ajaran tauhid yang wajib dipelajari guna melengkapkan ibadah kita kepada Allah Swt.. Bahkan, banyak sekali muslim yang tertipu dengan fatwa anonim bahwa, “Ingin tahu tentang Tuhan itu dosa!”
Padahal, justru inilah anjuran Nabi sejak awal. Padahal, inilah tujuan utama penciptaan manusia. Sedangkan yang dilarang itu mengira-kira tentang Tuhan dengan akal telanjang atau memikirkan Tuhan tanpa berdasarkan ilmu agama.

Tauhid adalah fardu. Mencari yang halal juga fardu. Mencari ilmu-ilmu yang menyangkut kegiatan sehari-hari juga fardu. Ikhlas dalam beramal juga fardu. Tidak meminta ganti dalam beramal juga fardu. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

Rasul Saw. mengajarkan bahwa fitrah ke-manusia-an itu sesungguhnya cenderung kapada agama tauhid dan senantiasa membutuhkan Tuhan. Oleh sebab itu, beliau bersabda,

Awal agama adalah mengenal Tuhan, ‘awwaluddin makrifatullah‘.


Sabda beliau ini diperkuat oleh dalil-dalil yang menerangkan tujuan penciptaan manusia, seperti tersurat dalam firman-firman Allah Swt. berikut ini.

Aku adalah harta yang tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk (hadis qudsi).

Tidak kuciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.(Q.S. Aż-żariyāt:56)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al-Baqarah:30)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku,….(Al-Hijr:29)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm:30)

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S. Al-Mu`minūn:115)

Mempelajari tauhid sesungguhnya wajib bagi setiap muslim. Sama wajibnya dengan mengerjakan ibadah fardu lain. Jika kita cermati sejarah penyebaran Islam selama ±23 tahun, tercatat bahwa pada mulanya yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. adalah ajaran aqidah (tauhid); mengenai siapa manusia itu dan siapa, di mana, dan bagaimana yang benar-benar disebut Tuhan itu. Adapun perintah mengerjakan ibadah syariat baru turun pada tahun ke-11 ketika beliau mengalami peristiwa Isra Mikraj.

Jadi, dalam Islam sejatinya makrifat mendahului syariat.


|_______Periode makrifat_________|______Periode Syariat____________|
Menjadi Nabi                          Isra Mikraj                                         Wafat


Inti ajaran tauhid adalah mengenal siapa yang disembah sebelum melakukan penyembahan. Ibnu Abbas, seorang mufasir Alquran periode awal, menafsirkan kata-kata “beribadah kepada-Ku” (ya`budūni) dalam Q.S. Aż-żariyāt: 56 bermakna “mengetahui-Ku” (ya`rifūni) (Karamustafa dalam pengantar buku Mencari Tuhan, 2006). Memang, tidak logis jika kita mengabdi pada raja atau sultan yang tidak kita kenali. Prinsip agama sebagai (penggunaan) akal (adīnul aqli) menuntut hal ini. Jangan sampai keberagamaan manusia berakal maju kembali seperti keberagamaan manusia primitif—yang menyembah berhala-berhala akibat persangkaan-persangkaan mereka tentang teori ketuhanan. Tauhid mengingatkan manusia bahwa penobatan Tuhan sebagai Tuhan tidaklah sahih jika kriterianya didapat melaluii persangkaan manusia semata. Hanya Tuhan yang mengetahui Tuhan.


Sebuah hubungan baru terjalin dengan baik setelah seseorang memperkenalkan dirinya atau setelah terjadi proses saling mengenal. Sederhananya, dalam ajaran tauhid Allah-lah yang lebih dulu memperkenalkan Diri, Zat, Nama, Sifat, dan Perbuatan-Nya kepada makhluk melalui firman-firman-Nya. Ini agar manusia tidak lagi mengulangi kebodohan umat-umat sebelumnya.
Untuk menyinggung satu sifat saja, Allah menurunkan banyak dalil dalam Alquran yang menginformasikan bahwa Ia bersifat Maha Mengetahui. Berikut ini beberapa petikannya.

Allah meliputi langit dan bumi. (Q.S. Al-Baqarah: 255)

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al-Baqarah: 115)

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Q.S. Al-Baqarah: 186)

Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). (Q.S. Al-An`am: 59)

(Q.S. Al-Hadīd: 4) Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. (Q.S. Yunus: 61)

Berdasarkan petikan ayat-ayat di atas, kita paling tidak menyadari kelogisan mengapa Tuhan itu Mahatahu. Premis-premis di atas mengisyaratkan bahwa Allah meliputi seisi alam sehingga ke mana pun memandang di situlah “Wajah”-Nya. Jadi, Tuhan itu dekat, berada di mana saja kita berada, dan mengetahui gugurnya sehelai daun karena Allah meliputi seluruh alam, seperti air yang meliputi tubuh ikan di samudera. Ya, kita ini diliputi oleh Allah! Kita senantiasa berenang-renang dalam samudera ketuhanan; tidak terpisah dari-Nya sedetik pun. Sangat logis jika Allah Maha Mengetahui segala sesuatu karena segala sesuatu itu berada “di dalam” Allah sendiri. (Pemahaman ini sekadar pemahaman tauhid dasar yang tidak dimaksudkan untuk mengecilkan makna kemahatahuan Allah yang hakiki. Allahualam bishawab)

Dengan mempelajari ilmunya, atas Izin-Nya setiap muslim akan benar-benar merasakan kehadiran Yang Kuasa. Atas Kehendak-Nya, setiap muslim akan serta-merta menjadi ihsan tanpa perlu meng-ihsan-ihsan-kan diri., Dengan pemahaman sederhana seperti itu saja, beramal ibadah rasanya menjadi mudah (padahal, kita belum lagi membahas dalil Q.S. Qāf:16 yang berbunyi:”Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Bukankah urat leher itu ada di dalam tubuh kita?! Ternyata Allah Swt. lebih dekat lagi).

Allahua’lam.



About MUX SPARROW

Just the most interesting man in your life, ahaha!

Ditulis dalam Kisah, Tauhid

Tags: ,

Permalink 3 Komentar

3 responses to “Awwaluddin Syariatullah Di Antara Kita

  1. Sungguh benar kata-kata Allah Yang Maha Agung

  2. ” INNANI ANALLAH LA ILAHA ILA ANA ” SESUNGGUHNYA AKU NAMA BAGI DZAT YANG MAHASUCI LAGI MAHATERTINGI, KESEMUANYA TIADA KECUALI AKU ” MANUSIA ADALAH RAHASIA AKU JUGA YANG BERKATA BEGITU.. SALAM SETUNGGAL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: